INFO TERBARU

‘Gwo Manei’ dan 40,8 Miliar

Hari ini, Gwo Manei seperti menemukan tubuh barunya. Bisa dalam bentuk kebijakan yang jauh dari rakyat, atau keputusan yang mengabaikan keberlanjutan ruang dan hidup warga. Gwo Manei tidak lagi menakutkan karena wujudnya, tapi cara kerjanya yang lebih diam.
Read More

Peluru Syair Ufuk Timur

Musik ini mungkin asing bagi sebagian orang Jakarta. Tapi malam itu, kabata terdengar seperti suara tanah adat yang belum selesai diperjuangkan.
Read More

Mabapura dan Ruang Batinku

Saya hidup dalam ruang dan waktu di mana lalu lintas kehidupan melewati pesisir, tanjung, dan pulau. Justru di sanalah saya merasakan Mabapura, ketika saya berada di sebuah pulau kecil bernama Belemsi.
Read More

Visi

Kami membayangkan komunitas-komunitas kepulauan yang berdaulat atas wilayah hidupnya, tangguh menghadapi perubahan sosial–ekologis, dan sejahtera menurut ukuran warga sendiri.

Upaya ini ditempuh melalui proses belajar bersama yang adil, jujur, dan berakar pada pengetahuan lokal, ingatan kolektif, serta tata kelola hidup yang tumbuh dari dalam komunitas.

Misi

  1. Mendorong ketahanan dan kemandirian komunitas
  2. Menemani komunitas sebagai subjek, bukan objek pembangunan
  3. Membuka ruang dialog yang setara dan non-hierarkis.
  4. Bersama komunitas untuk menafsir ulang adat dan tradisi

Sejarah

Salawaku berakar di Teluk Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Sejak 2014, melalui Majalah Salawaku, Ruang Bertutur Orang Biasa, kami menghimpun cerita warga sebagai kerja mengingat—mencatat hidup, perubahan, dan ketahanan masyarakat di tanah mereka sendiri.

Kini, Salawaku bekerja sebagai lembaga sosial–ekologis yang melakukan riset, pendidikan kritis, dan advokasi melalui pendampingan yang setara dan bermakna.

Kami belajar bersama warga, merumuskan masalah bersama, dan mencari jalan keluar bersama. Salawaku memilih menjadi Perisai Ingatan, menjaga pengetahuan lokal dan ruang hidup dari lupa dan kerusakan.